Sabtu, 06 Oktober 2018

Semua Tentangmu, Tiga Hari untuk Selamanya | Pluviophile | Lil P Journey



Disini, aku ingin menceritakan sebuah dongeng indah berbalut ragu-ragu dan ketidak pastian.

Sebuah cerita tentang 'tiga hari' di negeri dongeng yang ku rangkum dalam satu cerita pendek berlatar Desa Utara. Menarik sang garis waktu yang telah mempertemukan aku dan kau, dalam sebuah lakon cerita dunia.

Oh iya, sebelum lanjut membaca, coba cari lagu : 3 Hari untuk Selamanya - Float, lalu putar sembari membaca dongeng ini. Hehe

************************

Entah berapa banyak yang datang dan pergi dalam hidupku. Kau pernah bertanya : siapa cinta pertamamu? Dengan tegasku jawab : mungkin aku belum pernah benar-benar jatuh cinta. Tertarik mungkin. Dan kau salah satu lelaki yang mampu menarik ku keluar dari zona aman. Laki-laki yang sebenarnya (mungkin) bukan'tipe' ku. Hehe. Tapi cukup nyaman untuk ku sandari.

Aku hanya takut cerita tentangmu akan terlupakan bila tak aku tulis. Aku takut kau akan hilang tergerus oleh pemikiran-pemikiran baruku seperti yang sudah-sudah. Biar ku kenang kau menjadi sesuatu yang berbeda. Biar proses ini kelak dapat kubaca di teras rumah sembari menikmati senja dan secangkir kopi, dengan bahagia.

Jadi, izinkan aku menulis tentangmu lagi. Ku harap tak akan ada cerita tentangmu setelah ini. Silahkan kau baca cerita ini di depanku hingga wajahku bersemu merah karena malu. Tak mengapa, asalkan setelah itu aku bisa melanjutkan hidup dengan lega tanpa ada yang menggantung.

Dan cerita itu bermula disini.

________


Jadi benar, perpisahan yang sebenarnya terjadi tanpa kata selesai, tanpa ada kalimat 'hati-hati di jalan', 'semoga kamu selalu bahagia'. 
Tapi saat kita kehilangan kata 'halo' yang biasanya sangat mudah kita ucapkan di pagi hari.
Ketika pada akhirnya secara perlahan kita berjalan berlawanan arah tanpa aba-aba.
Terjadi tanpa kalimat 'aku akan merindukanmu'
Saat itu akan datang tanpa kalimat 'sampai jumpa'
Tanpa 'perpisahan'

________

25 September 2017.
Berawal dari udara yang membisikan sebuah nama coffee shop, kau ikut dalam perbincangan singkat itu. Hanya beberapa kalimat tak bermakna mungkin. Entahlah aku tak ingat detailnya. Aku kira semua berakhir saat itu. Tapi nyatanya kau bernyali untuk meminta nomor telponku pada teman seperjalananku kala itu. Dasar lelaki (beristri) ganjen, pikirku.

3 Maret 2018.
Pesan pertama darimu masuk dan rentetan percakapan random itu dimulai. Pada akhirnya percakapan itu membawaku kembali ke kotamu. Kota cantik dimana peradaban seakan tak mampu merobohlan tiang-tiang sejarah. Kota dimana moderinisasi tak merusak alam dan kehidupan adat masyrakatnya. Aku masih bisa melihat anak-anak SD pulang sekolah berjalan kaki menyusuri sawah dengan diiringi canda tawa, tanpa menenteng gadget.

Subuh, 23 Agustus 2018.
Ternyata baru 11 bulan sejak pertama kali aku mengunjungi kota ini, sejak pertama kali kita bertemu di dalam bis antar kota yang mengantarku pulang setelah tualang panjang, 12 jam. Kau bilang : mba half day traveller.

Awalnya aku pikir tak akan ada hal besar yang akan terjadi selama 3 hari di kota ini. Tapi Jum'at terakhir di bulan Agustus itu telah merubah semua perkiraan dan cerita yang kelak akan aku tulis. Aku pikir kau akan berwujud 'teman biasa', seperti teman-teman lain yang aku temui di kota lain. Walaupun aku tau beberapa bermain perasaan, tapi (sungguh) aku tak ingin menyisakan cerita tentang 'baper' di kota orang. Karena siapa tau aku jatuh cinta dengan kota itu dan ingin berkunjung lagi, sebuah hasrat 'baper' hanya akan menyisakan ketidak nyamanan dalam sebuah perjalanan.

Aku masih bisa mencium aroma segar punggungmu yang ku sandari selama beberapa hari kemarin. Harum.

Bahkan beberapa detik terakhir sebelum perpisahan kita masih jelas terekam dalam ingatanku. Kau adalah penggalan cerita 'lain' yang kutemui saat napak tilas. Tak seperti yang lainnya, kau ternyata cukup menarik untuk ku sentuh. Kau cukup mampu membuatku nyaman. Entah karena sikapmu yang ‘manly’, atau karena hal-hal manis yang kau ucapkan. Atau, karena hal magis seperti yang kau katakan sepanjang perjalanan di hari terakhir beserta godaanmu. Hahaha

Andai kau membaca tulisan ini, aku yakin kau akan tersenyum puas. Atau menganggapku ‘wanita bodoh’ yang mudah terpikat dan percaya pada semua kata-kata manismu.

Untuk ukuran orang baru, kau berhasil mengacau beberapa tatanan dalam kebiasaan ku. Kau berhasil memporak-porandakan ego wanita ku. Hahaha. Nyaris membuat ku galau. Untung seperti kata dia : kudu strong. 

Sayang, atau apalah itu, ternyata aku tak akan siap dengan perubahan yang terjadi kurang dari 24 jam. Aku tak akan siap menerima pernyataan yang sebenarnya aku tau pasti tapi aku tak siap mendengarkan langsung dan aku tak akan siap menerima perlakuan manis yang bahkan masih bisa aku ingat hingga saat ini.

Bagaimana bisa kau memainkan peran ini?
Menyatakan kau menyukaiku di Sabtu pagi terakhir bulan Agustus, sambil memeluk untuk berbisik : aku akan merindukanmu, lalu berubah dingin pada sore itu dengan dalih : lagi banyak pikiran, kamu pikir aku tidak memikirkanmu yang akan pulang? Bahkan nahasnya, kau seakan tak terjangkau di hari Minggu terakhir bulan Agustus kala itu. Dengan getir, ku angkat ransel merahku untuk pulang. Berakhir sudah pikirku kala itu, yang ternyata di aamiini oleh sang waktu.

Bolehkah aku melepasmu? Sekarang?
Agar kau tak perlu membuang waktumu untuk datang kemari dan meneruskan ucapan manismu yang mungkin saja masih bisa membuaiku. Atau memang kau sudah melepasku sejak aku beranjak pergi dari kota itu? Ah bisa saja memang sudah selesai sejak saat itu. Aku saja yang bodoh masih percaya dan sedikit berharap pada kata manismu.

Sayang sekali, ternyata ‘perasaan’ mampu merobohkan dinding persahabatan yang dari awal ku coba bangun. Saat kau bersikap hangat, saat kau kecup kening ku malam itu, aku tau semuanya sudah berubah. Terlebih saat kau berjanji akan mengunjungi di bulan September. Harusnya kau tak perlu mengatakan apa-apa yang tak bisa kau selesaikan. Dan aku menyesali telah sedikit menanam percaya pada semua kalimatmu. Tak seharusnya aku membiarkanmu membuaiku dan akhirnya membuatku tak nyaman untuk kembali kesana.

Terimakasih untuk jok motor yang menampungku selama 3 hari kemarin, terimakasih untuk punggung yang bisa ku sandari dan ku gigit saat mendengar bullyan mu, untuk jaket yang memelukku erat saat hujan, untuk pinggang yang bisa ku cengkram erat selama perjalanan terjal dan licin, untuk tangan yang menggandeng ku saat menaiki jalan menanjak (sebenernya aku cukup mampu untuk jalan sendiri hahaha), untuk lengan kekar (kau protes kata ini saat kau video call untuk menanyakan kenapa artikel tentangmu lenyap dari blogku, sudah ku post ulang kok) yang memelukku kala hujan malam itu di teras hostel sebelum kamu pulang atau siang hari sebelum aku pulang sembari berbisik 'aku akan merindukanmu' (kupikir kalimat itu tulus) dan untuk semua kata-kata manismu yang aku tak tau apakah itu madu atau racun. Terimakasih telah mengajakku berkeliling. Terimakasih sudah membiarkan ku singgah sejenak, merebahkan lelahku, merindukanmu walau sesaat dan meninggalkan bekas lipstick di jaketmu.

Oh, dan terimakasih untuk kecupan di keningku. Kamu adalah cerita manis dalam perjalananku. Terimakasih telah menjadi teman perjalanan yang luar biasa.

01 Oktober 2018
Aku tidak suka berada di titik ambigu. Dimana aku tak berhak khawatir, tapi juga tak bisa mundur dan melupakanmu begitu saja.

Aku belum perlu menghampirimu bukan? Akankah berlebihan bila tiba-tiba aku berada di hadapanmu? Ataukah perlu? Hahaha

Ah sudahlah. Pada akhirnya kita hanya punya dua pilihan : melepaskan atau dilepaskan.

Hanya saja aku sedikit kecewa. Kecewa pada diriku sendiri yang bisa semudah itu runtuh hanya karena panggilan telponmu, padahal aku sudah memacu motorku ratusan kilo dari rumah untuk meneriakan namamu di tengah hutan : kita selesai, selamat tinggal. Benci pada keadaan dimana aku tak bisa berbuat banyak. Benci pada kenyataan bahwa kamu tak memberikan petunjuk apapun selain sikap mu yang berubah dingin. Benci pada ego yang setinggi gunung yang gengsi untuk bertanya tentang kelanjutan cerita ini.

Bukan seperti ini harusnya kau menjalankan apa yang kau mulai. Bila awalnya kau bisa berbicara, kenapa diakhir tak satupun kalimat yang kau ucap? Harusnya kau mengatakan dengan lugas. Walaupun aku bisa menerka, langkah mana yang saat ini sedang kau ambil, tapi aku lebih bahagia bila kau mampu berujar seperti saat kau meminta untuk memulai. 

Kau tau, bahkan film terbaikpun harus berakhir walau akhirnya tak bahagia.

Andai semudah kalimat yang aku rapalkan bagai mantra, bahwa : tak usah kau pikirkan dia, toh banyak hal yang membuat kalian tak akan bersama, jarak misalnya, kalian tak akan bertemu lagi. Kau tau, satu-satunya yang masih membelamu hanyalah : perasaan. Sedang logika ku, dia hanya menjagaku tetap waras. 

Kau lebih senang memberikan kode, padahal dialog lebih memberikan titik terang. Kau lebih suka menghilang, padahal pertemuan lebih memberikan gagasan. Bukan hanya pertemuan fisik, tapi tatap muka antar grafis tak mengapa.

Aku bukan golongan wanita yang bisa selesai tanpa penyelesaian tanda tanya.

Jadi, bicaralah :) 
Agar aku mahfum dimana aku harus menempatkan kamu saat ini.

5 Oktober 2018.
Aku tidak memiliki kata yang sepadan untuk mengakhiri. Namun pada suatu masa, debaran jantung itu pernah berarti sesuatu, genggaman tangan itu pernah merangkai sesuatu dan pandangan itu pernah menyiratkan sesuatu. Walau pada akhirnya aku tak pernah tau, makna dari semua sikapmu. Ah mungkin kau tak cukup ‘manly’. 

Ada kalanya aku rindu pada chat malam Sabtu terakhir bulan Agustus kala itu. Ketika kau berubah menjadi sosok yang (seakan) tergapai. Sosok manja yang belumku temui sebelumnya. Diam-diam aku bahagia dengan hal kecil seperti : chat random yang berlangsung terus hingga salah satu dari kita tertidur. Lalu telpon manja darimu di pagi hari yang nyaris berlangsung hingga 1 jam lamanya, padahal kita akan bertemu (setelah kau mandi dan beranjak dari drama setelah bangun tidurmu yang membuatku gemas dan ingin mencubit perutmu). Jika Sabtu pagi terakhir di bulan Agustus itu kau bisa memanggiku 'sayang' dan menganggap kita telah sepakat untuk menjalani 'hal rumit', kenapa sekarang tidak kau selesaikan hal yang kau mulai itu? Katakan dimana letak salahnya, dimana letak aku harus berdiri sekarang.

Kadang aku berpikir : ada milyaran manusia di bumi ini, tapi kenapa Tuhan menitipkan rasa nyamanku padamu? Manusia yang tak bisa berada disebelahku untuk ku lihat sewaktu-waktu.
Katamu bila aku rindu, tinggal video call. Tapi jariku kelu untuk mengatakan aku rindu. Mungkin karena aku lebih memilih menulis ketimbang berbicara. Mungkin karena aku lebih suka dunia jurnalis ketimbang mengudara di radio. Dua dunia yang membesarkanku hingga aku nyaman dengan media elektronik.

Mungkin kau dan aku bukan ditakdirkan untuk bersama dan jatuh hati. Hanya untuk berjalan berdua dalam satu tempat yang sama hingga sang waktu berjalan melambat dan kelak kita akan berpisah atau bertemu lagi.

Dari sini aku berhenti mengutuk kenapa kita tinggal ditempat berbeda yang begitu jauh dan mulai mensyukuri jika kelak kita akan berjumpa lagi dengan perjumpaan yang lebih indah. Aku masih berusaha menjaga rindu yang pernah kita janjikan, ku harap kaupun begitu.

Teruntuk kamu seseorang di kejauhan, jarak bukanlah hitungan jauh, hanya sebuah angka. Sedang rindu adalah koma yang bercerita tentang kalimat kau dan aku.

— Sabtu di bulan Agustus

Aku mahfum, kau mungkin mempunyai beberapa pertimbangan kenapa tak kau lanjutkan segala yang kau mulai hingga berakhir menggantung seperti awan yang tak kunjung melepas hujan. Tapi, bicaralah, seperti katamu telpon atau video call. Untuk terakhir kalinya, untuk menerangkan yang saat ini abu-abu.

Kau pernah menjadi pusat semesta ku walau sesaat
Sekarang kita bagai dua orang asing dengan beberapa penggalan kenangan
Kau memberi harapan, lalu kau pergi tanpa satu kalimat penjelasan.
Aku hilang bukan berarti tak ingin dicari. 
Kita yang awalnya seribu rencana, hingga akhirnya diam seribu bahasa.
Terimakasih pernsh membuatku tersenyum lebih lebar ketika semilir angin pegunungan karts menerpa wajahku; membuat jantungku berdebar lebih kencang saat menyusuri jalan di desa yang dikepung alam hijau; membuat rinduku pada kotamu lebih kuat ketika aku sadar kau pernah berwujud'rumah'. Sungguh jarak hanya perkara angka, sedang debaran tak terbatas jumlahnya.


Pada akhirnya, aku tau
Bahwa semua kata-katamu hanyalah bualan untuk anak kecil. Hanya sebuah rayuan dan delusi.

Terimakasih atas pelajarannya. Di lain waktu, aku akan lebih belajar untuk memakai logika ketimbang rasa nyaman.
Read More

Selasa, 18 September 2018

Jumat, 14 September 2018

Ma' Nene' : Antara Tradisi, Rindu dan Cinta Pada Leluhur | Toraja | Novaturient | Lil P Journey



Sosok renta itu tengah dituntun berjalan beriringan dengan pakaian 'kemegahannya' lengkap dengan sepatu dan kaca mata. Di sebelahnya beridiri para anggota keluarga yang penuh haru dan rindu menanti untuk dapat kembali 'berkumpul' bersama. Sekilas sosok tersebut memang tampak wajar, tapi ia ternyata sudah tak bernyawa. Itulah gambaran acara adat ma' nene'  yaitu ritual penggantian pakaian mayat yang berlangsung pada 23-24 Agustus 2018 di Toraja Utara, Sulawesi Selatan.


Dan inilah ceritaku. Di Toraja, aku menemukan keindahan lain dari Indonesia. Keindahan yang berbalut adat, kerinduan dan bukti cinta pada leluhur yang tak tergerus oleh zaman.

Setahun Lalu

Jak Koffie

Berawal dari perjalanan ke Toraja tahun lalu, mengunjungi salah satu coffee shop yang cukup tersohor dikalangan pelancong, Jak Koffie. Bertemulah gw dengan Om Fyant (di dalam bis, gara-gara gw ngomongin Jak Koffie), yang ternyata merupakan pegawai dari Dinas Pariwisata Kabupaten Toraja Utara. Dari Om Fyant inilah gw mendapatkan informasi tentang acara ma' nene' yang dilaksanakan pada Agustus 2018. Acara ma' nene' merupakan acara adat 'langka' karena hanya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Maka tak heran bila acara adat ini tidak hanya menyedot antusiasme wisatawan lokal, tapi juga dari manca negara. Bahkan sepanjang pengamatan selama di sana, 60% pengunjung merupakan wisatawan luar negeri.


Sejarah 

Mengutip dari beberapa sumber, yang terlepas dari cerita faktual atau bukan, masyarakat Toraja percaya bahwa memuliakan orang yang sudah meninggal akan membawa keberkahan bagi kehidupan. Berawal dari cerita seorang pemburu yang menemukan jenazah di tengah jalan dengan kondisi yang memprihatikan, lalu hatinya tergerak untuk memakaian jenazah yang telah menjadi tulang belulang tersebut dengan baju yang ia kenakan .Si pemburu juga memindahkan jenazah tersebut ke tempat yang lebih layak. Ketika ia sampai di rumah, ia mendapati ladangnya sudah siap panen, padahal belum tiba waktu panen. Tak hanya sampai disitu, keberuntungan demi keberuntungan terus terjadi di kehidupan si pemburu tersebut. Dari cerita tadi, akhirnya tradisi ma' nene' ini lahir dan berlangsung hingga saat ini.


Sore itu di tengah perjalanan pulang dari Pangala', tempat acara ma' nene' berlangsung, sepanjang perjalanan menuju Rantepao mata kami dimanjakan dengan hamparan sawah yang telah selesai panen dan barisan bukit-bukit hijau dengan semilir angin sore yang mulai menusuk tulang. Om Fyant cerita bahwa acara ma' nene' baru bisa digelar setelah masa panen atau sebelum masa tanam. Oh mungkin ada kaitannya dengan kepercayaan asal-muasal ma' nene' berdasarkan cerita di atas, pikirku saat itu.Tapi hal ini juga dikarenakan acara ma'nene' diadakan dengan biaya yang didapat dari hasil panen.

Hamparan sawah yang telah selesai panen
Menurut beberapa sumber,  ma' nene' mempunyai dua makna. Pertama, seperti keyakinan orang Toraja pada umumnya, istilah ma' nene' dipahami dari kata nene’ alias "nenek" atau leluhur/orang yang sudah tua. Dan kedua, ada yang yang memaknainya dengan arti yang sedikit berbeda. Nene’ artinya orang yang sudah meninggal dunia. Baik mati tua maupun mati muda sama-sama disebut nene’. Kata nene’ kemudian diberi awalan “ma” yang jika digabung dapat diartikan sebagai “merawat mayat”.




Cerita Ma' Nene' | Lil P Journey

Waktu menunjukkan pukul 05.00 waktu setempat. Gw udah sampai di perwakilan bus Bintang Prima di Rantepao. Pada dering ke lima Om Fyant, yang sebelumnya telah bersedia nemenin perjalanan gw di Toraja, akhirnya menjawab panggilan telpon gw subuh itu. Selang 15 menit kemudian, Om Fyant sudah sampai (gw ngeliat dia dateng, tapi gw biarin dia celingukan, ternyata insting usil sudah muncul sedari hari pertama, hehehe) dan kami langsung menuju "Riana Homestay" yang akan menjadi "rumah" gw selama di Toraja.

Sokko'
Setelah meletakkan si "ransel merah" dengan aman di pojok kamar, kamipun pergi sarapan. Menu pagi ini (dan menjadi menu setiap pagi) adalah makanan khas Toraja, Sokko'. Terbuat dari ketan yang dihidangkan dengan parutan kelapa dan sambal tomat segar. Kalau kalian ke Toraja, kalian HARUS coba makanan ini!

Seperti yang gw ceritain sebelumnya, bahwa gw udah pernah ke Toraja tahun 2017, tapi cuma 12 jam. Dan kali ini gw pergi selama 3 hari. Hari pertama dan kedua fokus untuk acara Ma' Nene'  yang memang merupakan tujuan utama dari perjalanan ini. Di hari ketiga, terserah deh mau dibawa kemana sama si Om Fyant. Haha



Apa yang ada di pikiran kalian ketika melihat foto di samping? Seram. Ya, kebanyak orang yang melihat acara ma' nene'  di YouTube atau di TV akan berpikiran seperti itu, tak terkecuali gw. Dan itulah yang sebenarnya menjadi pertimbangan kesana 'sendiri'. Foto di samping merupakan gambaran acara ma' nene' yang berhasil gw dokumentasikan. Sebenarnya ada beberapa acara adat yang rutin dilaksanakan di Toraja selain ma' nene', yaitu :
1. Rambu Solo' (acara yang berkaitan dengan kematian)
2. Rambu Tuka' (acara yang berkaitan dengan kehidupan)
Jadi, Ma' Nene' berbeda dan bukan bagian dari Rambu Solo' ataupun Rambu Tuka'.

Acara Ma' Nene' kali ini diselenggarakan di Pangala', Kabupaten Toraja Utara. Desa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rantepao (sekitar 1 jam perjalanan) ini di kelilingi pemandangan yang adem banget. Kekayaan budaya yang begitu besar, turun temurun dan tak tergerus oleh zaman, menjadikan masyarakat Toraja sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kerukunan. Hal ini terlihat dari gotong-royong disetiap penyelenggaraan acara adat. Dan gw jatuh cinta dengan semua yang ada disini!!! Bagi kita yang setiap hari berkecimpung di padatnya kota, dengan semua ego manusianya, tak heran saat melihat alam di Toraja yang begitu tentram, adat dan perkembangan zaman berjalan beriringan, masyarakat yang ramah, pasti akan jatuh cinta dengan Toraja.

Baiklah, mari kembali ke cerita ma' nene'. 
 
Secara garis besar acara Ma' Nene' diawali dengan pembukaan liang kubur, dilanjutkan dengan pembersihan jenazah (mengganti pakaian), lalu menutup liang kubur kembali dan di akhiri dengan ibadah.


Pagi itu pukul 08.00 gw dan Om Fyant berangkat menuju Desa Pangala'. Prosesi acara ma' nene' dimulai dengan berkumpulnya anggota keluarga di Patane untuk mengambil jenazah dari anggota keluarga mereka. Patane merupakan sebuah kuburan keluarga yang bentuknya menyerupai rumah. Kuburan di Toraja ada yang berupa liang (loko, biasanya di gunung-gunung batu yang di pahat) dan patane' (bisa disebut kuburan modern masyarakat Toraja).

Lo'ko

Patane'


Setelah jenazah dikeluarkan dari patane, kemudian jenazah akan dibersihkan. Jenazah yang ada di dalam patane ada yang dibungkus dengan kain (katanya proses pembalutan ini sedikit ekstrim karena jenazah akan di babat hingga benar-benar rapat) dan ada juga yang disimpan dalam peti kayu. Beberapa jenazah ada yang berupa tulang belulang dan ada yang menjadi mummy. Ya, jadi belum tentu semua jenazah akan menjadi mumi. Apalagi kalau meninggal karena sakit diabetes, akan susah menjadi mumi, tutur salah satu warga yang hadir pada acara tersebut. Untuk jenazah yang berupa tulang belulang, maka kain pembungkusnya akan diganti (atau ada yang langsung dilapisi) dengan kain yang baru. Dan untuk yang menjadi mumi (umumnya ditempatkan di peti), pakaian yang dikenakan akan diganti dengan pakaian yang baru. Jenazah yang menjadi mumi di acara ma' nene' telah berusia puluhan tahun. Dan katanya ada juga yang berusia ratusan tahun.

Toraja adalah anugerah dan berkah dari Tuhan, tutur opa yang duduk di sebelah gw di perjalanan menuju Rantepao Rabu, 21 Agustus 2018. Dan gw mengaamiini kalimat beliau.


Ritual ma' nene' umumnya dilakukan serempak satu keluarga atau bahkan satu desa, sehingga acaranya pun berlangsung meriah. Semua masyarakan akan tumpek blek di acara ini. Suasana di patane yang gw kira bakalan seram pun berubah haru. Tak ayal acara ini pun menjadi acara 'berkumpul bersama', dimana anggota keluarga yang merantau akan datang saat acara ini berlangsung.

Setelah proses penggantian pakaian, lalu jenazah akan 'berdiri' bersama para anggota keluarga untuk berfoto bersama. Para wisatawanpun diperbolehkan untuk mengambil foto dan berfoto bersama. Setelah acara temu kangen keluarga tersebut selesai, jenazah akan dimasukan kembali ke peti untuk kemudia simpan ke Patane. Rangkaian prosesi ma' nene' ditutup dengan berkumpulnya anggota keluarga di rumah adat Tongkonan untuk beribadah bersama.



48 jam yang merubah pandangan gw tentang Toraja. Tentang ketulusan cinta pada leluhur. Bagi gw, Ma' nene' bukan hanya sekedar ritual membersihkan jasad dan memakaikan baju baru. Acara ini mempunyai makna yang sangat dalam, mencerminkan betapa pentingnya hubungan antar anggota keluarga, terlebih bagi sanak saudara yang telah terlebih dahulu meninggal dunia. Masyarakat Toraja menunjukkan hubungan antar keluarga yang tak terputus walaupun telah dipisahkan oleh kematian. Lewat ma' nene' ini pula menjadi media untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya.



Sebenernya gw masih miskin literasi, masih perlu banyak info buat mengulas acara ini sampe tuntas. Sedihnya, gw baru sadar kalau gw kekurangan materi saat mulai nulis artikel ini. Beberapa info di google menurut gw jauh dari kondisi di lapangan. Jadi, gw harus ke Toraja lagi. Hehe.
Dan gw sangat berterimakasih untuk pembaca yang sedia mengoreksi artikel ini, memberikan saran dan kritik demi kelengkapan artikel ini.


Jadi Indonesia itu bukan melulu tentang pantai dan pegunungan. Indonesia adalah paket lengkap. Kalau kau masih muda, punya waktu, tenaga, meteri dan masih sendiri (hehehe), lakukanlah perjalanan. Pundi-pundi rupiahmu akan kembali, tapi waktu dan tenaga 'muda' mu tak akan pernah kembali lagi.

Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk :
Om Fyant Layuk (teman perjalanan yang luar biasa)
Kak Abun Pasanggang (yang sudah ngebully gw disana, tapi kurang pedes bully annya)
Ruhul Arkam (teman dari Enrekang yang sudah jauh-jauh dateng buat anterin kopi, btw sampai ketemu lagi)
Para warga di Pangala' yang sangat-sangat ramah
Dan teman-teman yang gw temukan sepanjang perjalanan.










 



(Direvisi satu kali pada 15 September 2018 pukul 01.39)
Read More

Sabtu, 08 September 2018

Mungkin Aku Tak Pernah Kau Tunggu | Lil P Journey | Pluviophile


Jadi benar, perpisahan yang sebenarnya terjadi tanpa kata selesai, tanpa ada kalimat 'hati-hati di jalan', 'semoga kamu selalu bahagia'. 
Tapi saat kita kehilangan kata 'halo' yang biasanya sangat mudah kita ucapkan di pagi hari.
Ketika pada akhirnya secara perlahan kita berjalan berlawanan arah tanpa aba-aba.
Terjadi tanpa kalimat 'aku akan merindukanmu'
Saat itu akan datang tanpa kalimat 'sampai jumpa'
Tanpa 'perpisahan'

 *********************  


Aku masih bisa mencium aroma segar punggungmu yang ku sandari selama beberapa hari kemarin. Harum.

Ah, kamu bukan yang terindah, tapi kuakui cukup menarik.

Bahkan beberapa detik terakhir sebelum perpisahan kita masih jelas terekam dalam ingatan ku. Kau adalah penggalan cerita menarik yang ketemui saat napak tilas. Tak seperti yang lainnya, kau ternyata cukup menarik untuk ku sentuh. Kau cukup mampu membuatku nyaman. Entah karena sikapmu yang ‘manly’, atau karena hal-hal manis yang kau ucapkan. Atau, karena hal magis seperti yang kau katakan sepanjang perjalanan di hari terakhir beserta godaanmu. Hahaha

Andai kau membaca tulisan ini, aku yakin kau akan tersenyum puas. Atau menganggapku ‘wanita bodoh’ yang mudah terpikat.

Untuk ukuran orang baru, kau berhasil mengacau beberapa tatanan dalam kebiasaan ku. Kau berhasil memporak-porandakan ego wanita ku. Hahaha. Nyaris membuat ku galau. Untung seperti kata dia : kudu strong. 

Sayang, atau apalah itu, ternyata aku tak akan siap dengan perubahan yang terjadi kurang dari 24 jam. Aku tak akan siap menerima pujian bertubi-tubi, menerima pernyataan yang sebenarnya aku tau pasti tapi aku tak siap mendengarkan langsung dan aku tak akan siap menerima perlakuan manis yang bahkan masih bisa aku ingat hingga saat ini.

Bolehkah aku melepasmu? Sekarang?
Agar kau tak perlu membuang waktumu untuk datang kemari dan meneruskan ucapan manismu yang mungkin saja masih bisa membuaiku. Atau memang kau sudah melepasku sejak aku beranjak pergi dari kota itu? Ah bisa saja memang sudah selesai sejak saat itu. Aku saja yang bodoh masih percaya dan sedikit berharap pada kata manismu.

Sayang sekali, ternyata ‘perasaan’ mampu merobohkan dinding persahabatan yang dari awal ku coba bangun. Saat kau bersikap hangat, saat kau kecup kening ku malam itu, aku tau semua sudah berubah. Dan aku menyesalinya. Tak seharusnya aku membiarkanmu membuaiku dan akhirnya membuatku tak nyaman untuk kembali kesana.

Terimakasih untuk jok motor yang menampungku selama 3 hari kemarin, terimakasih untuk punggung yang bisa ku sandari dan ku gigit saat mendengar bullyan mu, untuk jaket yang memeluk ku erat saat hujan, untuk pinggang yang bisa ku cengkram erat selama perjalanan terjal dan licin, untuk tangan yang menggandeng ku saat menaiki jalan menanjak (sebenernya aku cukup mampu buat jalan sendiri hahaha), untuk lengan kekar yang memeluk ku kala hujan malam itu di teras hostel sebelum kamu pulang atau siang hari sebelum aku pulang sembari kau berbisik “aku akan merindukanmu”, dan untuk semua kata-kata manismu yang aku tak tau apakah itu madu atau racun. Terimakasih telah mengajak ku berkeliling. Terimakasih sudah membiarkan ku singgah sejenak, merebahkan lelahku, merindukanmu walau sesaat dan meninggalkan bekas lipstick di jaketmu.

Oh, dan terimakasih untuk kecupan di keningku sesaat sebelum kamu mengantarkanku ke penjemputan bis antar kota. Kamu adalah cerita manis dalam perjalananku. Terimakasih telah menjadi teman yang luar biasa.
Read More

Sabtu, 18 Agustus 2018

Let's Get Lost at Singapore 4D3N | Traveling | Lil P Journey

Hello guys!
Kayanya uda lama ya gw nggak post tempat-tempat liburan yang seru buat kalian jadiin referensi. Jadi kali ini gw pengen share  liburan gw ke Singapore awal tahun kemarin. Mungkin di google uda banyak banget yang share liburan ke Singapore. Tapi ya, ini liburan versi gw.
By the way, mungkin post kali ini bakalan gw bagi menjadi dua bagian, yang pertama tentang kemana aja sih gw selama disana dan yang kedua about budgeting. Dan diartikel ini gw bakalan share selengkap-lengkapnya panduan ke tempat wisata 'gratis' di Singapore. Mulai dari terminal MRT dan pintu keluarnya serta apa aja yang ada disana. So kalian harus baca sampai tuntas. Dan karena perjalanan ini menggunakan MRT sebagai transportasi selama di Singapore, kalian wajib punya peta MRT nya, bisa di download di appstore, google play, google atau ambil di brosur yang ada di Changi MRT.

Alkisah, diceritakan dua orang sahabat pergi keluar dari zona nyaman mereka pada 24-28 Januari 2018 menuju negeri singa yang berada di seberang.
LET'S GET LOST AT SINGAPORE 4D 3N

Rabu, 24 Januari 2018
----------------------------------
DAY 1
BDJ-CGK
CGK-Singapore
Little India (liat hiasan lampu ditengah jalan yang cantik)
Balik ke Hotel
----------------------------------
Solusi traveling hemat itu ya bareng Airasia. Terhitung 22 Januari 2018 penerbangan rute internasional Airasia pindah ke Terminal 3 (T3). Nah untuk pindah terminal (karena kami transit BDJ-CGK) kita bisa pakai Skytrain atau shuttle bus yang disediakan oleh pihak bandara (kami milih skytrain untuk pindah terminal). Dan fasilitas ini GRATIS guys untuk kalian yang mau pindah terminal. Kalau naik taksi bandara, kalian perlu siapin budget Rp 100.000,-.

T3 Soekarno-Hatta

Pukul 16.50 kami sampai di Changi International Airport. Dan kami harus naik shuttle bus dari T4 kedatangan ke T2 untuk naik MRT (kalian bisa baca dipetunjuk arah yang ada di bandara 'bus to T2 & MRT'). Sampai di T2 tinggal cari aja petunjuk 'MRT'.
Nah sedikit tips nih buat yang mau naik MRT, better kalian beli "Singapore Tourist Pass" karena itu pass unlimited untuk tourist yang berlibur ke Singapore. Dan menurut gw transport pakai STP ini murah banget di bandingin kalian ambil yang one way ticket. Untuk biaya STP 1 hari itu $20SGD dan untuk 3 hari $30SGD. Detailnya bakalan gw post di bagian kedua ya.

Arrived at Changi Airport
Setelah kami membeli STP, tujuan pertama kami adalah HOTEL! Hahaha. Dan baru ini gw cobain hotel di Chinatown. Hotelnya deket banget sama stasiun MRT. Recommended banget hotelnya. Namanya Royal Lodge (kami pesen di Traveloka). Pelayanannya keren banget deh pokoknya. Kalau nggak salah gw ada bikin review hotel ini di Traveloka dan TripAdvisor.
Pintu keluar Chinatown MRT, disebelah kiri ada Guardian, nah hostelnya itu tepat disampingnya.




Free breakfast dari hotelnya.
add $1,8SGD dan kalian bisa nikmatin nasi goreng

Little India
Little  India




Kamis, 25 Januari 2018
----------------------------------
DAY 2
Chinatown Heritage Center
Marlion Park (sayangnya pas renov T_T)
Garden by the bay
Sky Way Garden by the bay
Art Science Museum
 Carkle Quay 
----------------------------------

Chinatown Heritage Center
Lokasinya dekat dengan hotel. Begitu keluar dari hotel belok kiri, lurus saja sekitar 50 meter. Kalau kalian ingin menelusuri sejarah masyarkat China tinggal di Singapore, mungkin Chinatown Herritage Centre adalah tempat yang tepat untuk kalian kunjungi. Gw lupa sih berapa tiket masuknya, karena kami kurang tertarik untuk berkunjung ke dalam. Hehehe


Marlion Park | Rafles Place MRT exit G
Yuhuuuu, ke Singapore tak lengkap rasanya kalau tak berkunjung ke Marlion Park yang merupakan 'Monasnya' Singapore. Sayangnya waktu kami kesana, patung Marlion nya sedang di renov. Tapi tak apalah, karena saat kalian menuju tempat ini, kalian bisa menikmati pemandangan Singapore yang dihiasi gedung-gedung tinggi.
Untuk sampai ke Marlion park, begitu keluar pintu G kalian belok kanan, dan nanti masuk mall gitu untuk menyeberang. Kalian bisa nanya ke orang sekitar. (soalnya kalau dijelasin agak ribet. hehehe)

Suasana di dalam MRT saat sepi
Penyeberangan menuju Marlion Park
 







Garden by The Bay | Bayfront MRT exit E
Ada banyak tempat wisata yang bisa kalian nikmati disini. Tapi ada tiekt masuknya. Hehehe.
Dan yang iconic dari Garden by The Bay ini adalah pohon yang terbuat dari rangka besi yang akan menampilkan pertunjukkan lampu warna-warni ketika malam dan diiringi dengan lagu.

Lunch $8,5 SGD
Salah satu wahana yang cukup murah yang kami masuki adalah 'OCBC Sky Way'. Kalau nggak salah sih untuk masuk dikenakan tiket $6 SGD. Jadi kan di pohon disini ada yang connected gitu kan. Nah kita bisa nikmatin view dari atas sini.






Art Science Museum | Bayfront MRT exit E
Loh kok sama MRT nya? Iya guys, Garden by The Bay dan Art Science Museum ini satu lokasi. Nah keluar pintu E itu akan ada arah panahnya kita mau kemana. Cuma beda belokan aja. Kalau ke sini kalian cukup lurus dan masuk mall gitu, lalu naik eskalator sampai lantai 3 kalau nggak salah. 
Niatnya kami kesini pengen masuk dan foto di dalam lampu-lampu itu. Hehehe. Tapi sayang pas kami kesini uda tutup (6 pm).  Dan kami memutuskan untuk kembali esok pagi.

Carkle Quay | Carkle Quay MRT
Carkle Quay merupakan wisata malam Singapore yang berada di tepi sungai. Disini kalian bisa menikmati dentuman musik DJ outdoor, keliling sungai dengan kapal dan ada juga wahana yang ekstrim dimana kita akan menaiki bola dan boom kita akan di lempar. Serius! Hahaha

Disini juga ada tempat untuk menggantung gembok 'cinta'
Jum'at, 26 Januari 2018
----------------------------------
DAY 3
Masjid Sultan
Sentosa Island
Art Science Museum
Helix Bridge
----------------------------------
Masjid Sultan | Bugis MRT exit B
Masjid Sultan Singapore yang terletak di Kampong Glam merupakan titik utama sejarah masyarakat muslim di Singapura. Tak afdol rasanya bila ke Masjid Sultan tanpa makan di warung nasi padang yang ada di belakang masjid ini. Harganya pun lumayan terjangkau $3 SGD, tergantung lauk dan minum yang kalian mau. Hoho.






Sentoso Island | Harbour Front MRT exit E 
Tak lengkap rasanya pergi ke Singapore tanpa singgah ke Sentosa Island. Nah untuk menuju ke Sentosa Island ini kita harus naik kereta khusus. Jadi setelah keluar dari pintu E, kita akan masuk mall (fyi semua MRT keluarnya memang di mall. hehe) dan kita harus naik ke lantai 3. Sampai di lantai 3 akan ada loket tiket. Tiket keretanya sendiri $4 per orang.
Sering kan ya lihat orang foto di depan Universal Studios. Nah disini tempatnya. Kalau foto di depan bola dunia yang ada Universal Studios Singapore itu gratis, tapi untuk masuk kedalam itu sekitar $75 SGD atau sekitar Rp 750.000,- . Tapi tenang, tanpa masuk Universal kalian tetep bisa nikmatin spot-spot foto keren disini.

Ice cream yang wajib kalian coba kalo ke Sentosa Island











Art Science Museum | Bayfront MRT exit E
Kami kembali!!!
Yay! Karena rasanya sayang aja kalau ke Singapore tanpa lihat isi dari  Art Science Museum. Tiket masuknya $6 per orang. Nah di dalam sini kalian bakal nikmatin pertunjukkan dari barisan lampu yang di pajang menjutai yang akan menyala berwarna-warni. Hohoho




 

 
Helix Bridge
Nah kalau ini letaknya deket sama Art Science Museum. Keluar dari museum, tinggal jalan lurus, kalian uda sampe disini. Dan dari Helix Bridge ini kalian bisa lihat museum dan Marina Bay.




Sabtu, 27 Januari 2018
----------------------------------
DAY 4
Sri Mariamman Temple
Makam Habib Noh
Bugis Street (Lunch)
---------------------------------- 
Yay uda nggak kerasa last day. 
Sarapan terakhir hari ini, gw cobain telor setengah matang dan si cece setia dengan nasi gorengnya.
Rencana awalnya sih hari ini pengen Pulau Ubin dimana letaknya nggak jauh dari airport. Tapi ternyata kami lebih memilih menjadi oase dalam rindu pada Mu ya Allah.

Sri Mariamman Temple
Merupakan kuil Hindu yang berada di China Town. Agak jauh memang letaknya dari penginapan kami. Perlu berjalan sekitar 500 meter setelah keluar hotel dan belok kiri.



Makam Habib Noh | Palmer Rd Tanjong Pagar MRT
Nah untuk kesini kalian bisa menggunakan Tanjong Pagar MRT lalu keluar di exit E. Keluar dari MRT kalian akan nemu lampu merah di mana ada petunjuk jalan bertuliskan Maxwell Rd, lalu belok ke kanan (Shenton Way), lurus saja sampai Palmer Rd. Kubah masjid nya kelihatan kok dari jalan raya.



Bugis Street  | Last Lunch
Lunch terakhir di Singapore.




WELCOME BACK TO INDONESIA
Senyaman apapun negeri seberang, memang lebih nyaman 'rumah'. Dan kami rindu makanan Indonesia. Hahaha. Tahu tek menjadi sasaran pemadam rindu akan kuliner nusantara.

Tahu Tek Cak Har, terenak di Banjarmasin. Alamatnya di seberang Giant A Yani Km 6,5.

Jadi, sejauh apapun kamu pergi, pada kahirnya tujuan akhirmu pasti lah rumah. Ya Indonesia adalah rumah. Selagi masih sendiri, waktu tak akan pernah kembali, tapi uang dapat kau cari. Jadi, selagi muda dan sendiri, menjelajahlah. Karena Indonesia terlalu indah untuk hanya kau nikmati di layar.
Read More