Rabu, 21 November 2018

Labengki : Surga Kecil Suku Bajo | Novaturient | Lil P Journey |

Byuuurrr!!!Byuuurrr!!!Byuuurrr!!!
Suara riak air diikuti oleh gelak tawa suara anak-anak Suku Bajo menyambut kedatangan kami sore itu. Mereka, anak-anak suku bajo itu berumur 3-6 tahun, tanpa rasa takut bergumul dengan air laut yang jernih di depan rumah mereka. Rambut mereka coklat kepirangan, kulit mereka eksotis dan tawa mereka renyah.
Anak-anak suku bajo.

Office Coffee, September 2017.
"Halo mas, ope trip ke Sambori Labengki 3 hari 2 malamnya masih ada nggak? untuk dua orang". Saat itu gw langsung gercep cari open trip ke Sombori-Labengki. Berselancar melalui tagar instagram akhirnya, gw nemu open trip yang masih ada space untuk gw dan cece. Adakah yang lebih menyenangkan dari pada keluar rutinitas kantor yang padat dan berlibur di pulau nan jauh dari hiruk pikuk kota, tanpa signal, tanpa listrik. Hehehe.
Mungkina nama Sombori-Labengki belum seterkenal Wakatobi, walaupun mereka sama-sama di Sulawesi. Dan sebenernya gw bingung nulis letak dari dua pulau ini. Sombori sendiri, menurut info google maps, terletak di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah. Sedang Labengki terletak di Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. So, ketika kalian kesini, menurut google maps, kalian telah berpetualang di dua Provinsi. Hehehe. Dan rata-rata paket open trip memang berjudul : Pesona Pulau Sombori-Labengki.

Kendari, September 2017
Setelah menghabiskan satu malam di salah satu hostel di Kendari, pagi jam 08.00 waktu setempat kami di jemput mas Bayu, guide open trip kami, untuk ke dermaga penyeberangan ke Sombori-Labengki. Beruntungnya gw sama cece, temen-temen satu grup open trip kami itu nggak ada yang jaim dan suasananya pecaaaaah banget, jadi 4 jam perjalananpun berjalan seru. Honestly ini pertama kali kami ikut open trip sih.
Ini grup OT kaya gado-gado, campur-campur gitu.

Sombori-Labengki, September 2017
Namanya Sombori-Labengki, Sulawesi. Kecil dan indah. Jauh dan seru. Sederhana dan hangat. Begitu gambaran saat pergi kesana dan berinteraksi dengan warga suku bajo yang menjadi penduduk asli pulau ini.




Pemukiman suku bajo.
Tempat pertama yang kami kunjungi setelah perjalanan membelah lautan bak 'marcopolo',  adalah perumahan Suku Bajo Labengki Kecil kalau tidak salah. Hal pertama yang kami lakukan saat sampai disini adalah mencari toilet. Hehe. Setelah membelah laut, ternyata kami masih berwujud manusia. Hahaha. Walaupun kami singgah tak lama, tapi disini adalah titik pertama kami berkenalan dengan keramahan penduduk suku bajo. Disinilah awal naluri kami diketuk. Saat melihat mereka yang begitu bahagia, seolah tanpa beban, dengan segala keterbatasan fasilitas. Tanpa listrik. Ya. Disini listrik hanya jalan ketika malam. Itupun dengan genset. Saat itu gw pernah nanya kesalah satu penduduk, bagaimana peran pemerintah terhadap mereka, takutnya kan mereka nggak tersensus, secara mereka hidup ditengah laut, dan suku bajo sendiri terkenal dengan hidup nomaden. Beliau mengatakan, masih sebatas janji pemilu. Pilu memang, tapi begitulah adanya. Semoga kelak, dipemerintahan yang mendatang, mereka akan merasakan indahnya menjadi bagian dari NKRI, setidaknya, fasilitas pendidikan dna kesehatan yang lebih baik.


Hei kamu gadis cantik yang tengah berdiri di atas sampan tanpa gentar! Kelak jika kau beranjak dewasa, dan dunia seolah menyakitimu, tenanglah, karna semua akan baik-baik saja pada waktunya.


Setelah puas bercengkrama dengan warga sekitar, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai pasir panjang.Dipantai ini kalian bakalan dimanjakan dengan pantai pasir putih yang membentang indah dan pohon kelapa yang berjajar rapi mengelilingi pulau. 

Nah di pantai pasir panjang ini, ada batu besar yang bisa kalian daki untuk melihat view dari ketinggian. Tapi be careful yang guys, karena permukaan batu ini runcing. Salah-salah bisa menyobek baju kalian. Setelah puas mengambil foto, berenang dan memanjat, saatnya pulang ke 'rumah'!!!

Nah, kalian pasti bertanya-tanya, diamana kami bermalam selama Open trip Sombori-Labengki 3 hari 2 malam ini. Sesuai paket open trip yang kami ambil, kami bermalam di pemukiman suku bajo. Wah, sensasinya dapet banget. Jadi yaaa anggap aja 'rumah'. Bermalam di rumah warga, makan malam ikan laut segar, dan bercengkrama dengan para pelancong memang menjadi momen yang paling dirindukan ketika berada di dunia nyata seperti sekarang. Selain listrik yang ada hanya ketika malam hari, air bersih disini juga terbatas. Untuk keperluan mandi kalian harus beli air bersih, harganya untuk satu jerigen ukuran 5 liter Rp 5.000,-. Jadi gimana? Masih mau buang-buang air, berboros-boros menggunakan listrik?


Aku rindu! Rindu pada semua kesederhanaan disana. Saat para generasi penerus tak disbukkan dengan ig story dan asik bercengkrama dengan alam. Hei! Kabar kalian baik-baik saja kan?
Pagi pertama di pemukiman suku bajo ini disambut dengan anak-anak suku bajo yang tengah asik bermain di atas kapal. Mereka bahagia dengan kedatangan kami para saudara jauh mereka. Bagi anak-anak suku bajo, laut adalah rumah kedua mereka, laut adalah sahabat mereka. Wajar saja kalau suku bajo dikenal mempunyai kemampuan menyelam alami tanpa alat bantu yang sangat lama. Bahkan peneliti menyebutkan mereka mempunya sistem pernafasan yang berbeda dari orang normal.

Tujuan perjalanan hari ini adalah rumah nenek, laguna dan icon dari pulau ini sendiri 'miniatur Raja Ampat'.



Nek, apa kabarmu? Semoga kau selalu sehat.
  
Rumah nenek
Icon Labengki-Sombori : Sombori Hills
Hei! Terimakasih menjadi teman perjalanan yang keren! Pantai Koko

Dan hari terakhir, seharusnya kami ke teluk cinta, tapi sayang hujan badai menerjang pagi itu hingga pukul 08.00 wita. Akhirnya kami memutuskan untuk langsung pulang ke Kendari.

---------------------------- 

Andai selamanya, atau setidaknya lebih lama, pasti seru. Setiap hari melihat matahari terbit di lautan, melihat senja menarik cahaya orange menuju ungu yang akhirnya tenggelam dalam gelap dan taburan gemintang memanjakan mata.

Jadi Gimana? Masih sesulit itukah untuk bersyukur? Sedang mereka yang ada disana, listrik tak ada, signal HP apalagi, internet? Jangan di tanya. Jangankan yang berbau teknologi seperti itu, buah dan sayur adalah makanan langka disana. Tapi Tuhan itu baik, mereka masih bisa menikmati hasil alam dari laut berprotein tinggi.

Kalau hidupmu masih tak kunjung membaik, coba sesekali keluar dari rutinitas dan perhatikan sekitar. Bisa jadi lelah dan keluhmu adalah harapan bagi orang yang ingin sepertimu.


Dan pada akhirnya bahagia itu bukan tentang seberapa banyak materi yang kita punya, tapi bagaimana ‘cukup’ mampu membuat kita bersyukur.
Read More

Selasa, 18 September 2018

Jumat, 14 September 2018

Ma' Nene' : Antara Tradisi, Rindu dan Cinta Pada Leluhur | Toraja | Novaturient | Lil P Journey



Sosok renta itu tengah dituntun berjalan beriringan dengan pakaian 'kemegahannya' lengkap dengan sepatu dan kaca mata. Di sebelahnya beridiri para anggota keluarga yang penuh haru dan rindu menanti untuk dapat kembali 'berkumpul' bersama. Sekilas sosok tersebut memang tampak wajar, tapi ia ternyata sudah tak bernyawa. Itulah gambaran acara adat ma' nene'  yaitu ritual penggantian pakaian mayat yang berlangsung pada 23-24 Agustus 2018 di Toraja Utara, Sulawesi Selatan.


Dan inilah ceritaku. Di Toraja, aku menemukan keindahan lain dari Indonesia. Keindahan yang berbalut adat, kerinduan dan bukti cinta pada leluhur yang tak tergerus oleh zaman.

Setahun Lalu

Jak Koffie

Berawal dari perjalanan ke Toraja tahun lalu, mengunjungi salah satu coffee shop yang cukup tersohor dikalangan pelancong, Jak Koffie. Bertemulah gw dengan Om Fyant (di dalam bis, gara-gara gw ngomongin Jak Koffie), yang ternyata merupakan pegawai dari Dinas Pariwisata Kabupaten Toraja Utara. Dari Om Fyant inilah gw mendapatkan informasi tentang acara ma' nene' yang dilaksanakan pada Agustus 2018. Acara ma' nene' merupakan acara adat 'langka' karena hanya dilaksanakan setiap tiga tahun sekali. Maka tak heran bila acara adat ini tidak hanya menyedot antusiasme wisatawan lokal, tapi juga dari manca negara. Bahkan sepanjang pengamatan selama di sana, 60% pengunjung merupakan wisatawan luar negeri.


Sejarah 

Mengutip dari beberapa sumber, yang terlepas dari cerita faktual atau bukan, masyarakat Toraja percaya bahwa memuliakan orang yang sudah meninggal akan membawa keberkahan bagi kehidupan. Berawal dari cerita seorang pemburu yang menemukan jenazah di tengah jalan dengan kondisi yang memprihatikan, lalu hatinya tergerak untuk memakaian jenazah yang telah menjadi tulang belulang tersebut dengan baju yang ia kenakan .Si pemburu juga memindahkan jenazah tersebut ke tempat yang lebih layak. Ketika ia sampai di rumah, ia mendapati ladangnya sudah siap panen, padahal belum tiba waktu panen. Tak hanya sampai disitu, keberuntungan demi keberuntungan terus terjadi di kehidupan si pemburu tersebut. Dari cerita tadi, akhirnya tradisi ma' nene' ini lahir dan berlangsung hingga saat ini.


Sore itu di tengah perjalanan pulang dari Pangala', tempat acara ma' nene' berlangsung, sepanjang perjalanan menuju Rantepao mata kami dimanjakan dengan hamparan sawah yang telah selesai panen dan barisan bukit-bukit hijau dengan semilir angin sore yang mulai menusuk tulang. Om Fyant cerita bahwa acara ma' nene' baru bisa digelar setelah masa panen atau sebelum masa tanam. Oh mungkin ada kaitannya dengan kepercayaan asal-muasal ma' nene' berdasarkan cerita di atas, pikirku saat itu.Tapi hal ini juga dikarenakan acara ma'nene' diadakan dengan biaya yang didapat dari hasil panen.

Hamparan sawah yang telah selesai panen
Menurut beberapa sumber,  ma' nene' mempunyai dua makna. Pertama, seperti keyakinan orang Toraja pada umumnya, istilah ma' nene' dipahami dari kata nene’ alias "nenek" atau leluhur/orang yang sudah tua. Dan kedua, ada yang yang memaknainya dengan arti yang sedikit berbeda. Nene’ artinya orang yang sudah meninggal dunia. Baik mati tua maupun mati muda sama-sama disebut nene’. Kata nene’ kemudian diberi awalan “ma” yang jika digabung dapat diartikan sebagai “merawat mayat”.




Cerita Ma' Nene' | Lil P Journey

Waktu menunjukkan pukul 05.00 waktu setempat. Gw udah sampai di perwakilan bus Bintang Prima di Rantepao. Pada dering ke lima Om Fyant, yang sebelumnya telah bersedia nemenin perjalanan gw di Toraja, akhirnya menjawab panggilan telpon gw subuh itu. Selang 15 menit kemudian, Om Fyant sudah sampai (gw ngeliat dia dateng, tapi gw biarin dia celingukan, ternyata insting usil sudah muncul sedari hari pertama, hehehe) dan kami langsung menuju "Riana Homestay" yang akan menjadi "rumah" gw selama di Toraja.

Sokko'
Setelah meletakkan si "ransel merah" dengan aman di pojok kamar, kamipun pergi sarapan. Menu pagi ini (dan menjadi menu setiap pagi) adalah makanan khas Toraja, Sokko'. Terbuat dari ketan yang dihidangkan dengan parutan kelapa dan sambal tomat segar. Kalau kalian ke Toraja, kalian HARUS coba makanan ini!

Seperti yang gw ceritain sebelumnya, bahwa gw udah pernah ke Toraja tahun 2017, tapi cuma 12 jam. Dan kali ini gw pergi selama 3 hari. Hari pertama dan kedua fokus untuk acara Ma' Nene'  yang memang merupakan tujuan utama dari perjalanan ini. Di hari ketiga, terserah deh mau dibawa kemana sama si Om Fyant. Haha



Apa yang ada di pikiran kalian ketika melihat foto di samping? Seram. Ya, kebanyak orang yang melihat acara ma' nene'  di YouTube atau di TV akan berpikiran seperti itu, tak terkecuali gw. Dan itulah yang sebenarnya menjadi pertimbangan kesana 'sendiri'. Foto di samping merupakan gambaran acara ma' nene' yang berhasil gw dokumentasikan. Sebenarnya ada beberapa acara adat yang rutin dilaksanakan di Toraja selain ma' nene', yaitu :
1. Rambu Solo' (acara yang berkaitan dengan kematian)
2. Rambu Tuka' (acara yang berkaitan dengan kehidupan)
Jadi, Ma' Nene' berbeda dan bukan bagian dari Rambu Solo' ataupun Rambu Tuka'.

Acara Ma' Nene' kali ini diselenggarakan di Pangala', Kabupaten Toraja Utara. Desa yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Rantepao (sekitar 1 jam perjalanan) ini di kelilingi pemandangan yang adem banget. Kekayaan budaya yang begitu besar, turun temurun dan tak tergerus oleh zaman, menjadikan masyarakat Toraja sangat menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan kerukunan. Hal ini terlihat dari gotong-royong disetiap penyelenggaraan acara adat. Dan gw jatuh cinta dengan semua yang ada disini!!! Bagi kita yang setiap hari berkecimpung di padatnya kota, dengan semua ego manusianya, tak heran saat melihat alam di Toraja yang begitu tentram, adat dan perkembangan zaman berjalan beriringan, masyarakat yang ramah, pasti akan jatuh cinta dengan Toraja.

Baiklah, mari kembali ke cerita ma' nene'. 
 
Secara garis besar acara Ma' Nene' diawali dengan pembukaan liang kubur, dilanjutkan dengan pembersihan jenazah (mengganti pakaian), lalu menutup liang kubur kembali dan di akhiri dengan ibadah.


Pagi itu pukul 08.00 gw dan Om Fyant berangkat menuju Desa Pangala'. Prosesi acara ma' nene' dimulai dengan berkumpulnya anggota keluarga di Patane untuk mengambil jenazah dari anggota keluarga mereka. Patane merupakan sebuah kuburan keluarga yang bentuknya menyerupai rumah. Kuburan di Toraja ada yang berupa liang (loko, biasanya di gunung-gunung batu yang di pahat) dan patane' (bisa disebut kuburan modern masyarakat Toraja).

Lo'ko

Patane'


Setelah jenazah dikeluarkan dari patane, kemudian jenazah akan dibersihkan. Jenazah yang ada di dalam patane ada yang dibungkus dengan kain (katanya proses pembalutan ini sedikit ekstrim karena jenazah akan di babat hingga benar-benar rapat) dan ada juga yang disimpan dalam peti kayu. Beberapa jenazah ada yang berupa tulang belulang dan ada yang menjadi mummy. Ya, jadi belum tentu semua jenazah akan menjadi mumi. Apalagi kalau meninggal karena sakit diabetes, akan susah menjadi mumi, tutur salah satu warga yang hadir pada acara tersebut. Untuk jenazah yang berupa tulang belulang, maka kain pembungkusnya akan diganti (atau ada yang langsung dilapisi) dengan kain yang baru. Dan untuk yang menjadi mumi (umumnya ditempatkan di peti), pakaian yang dikenakan akan diganti dengan pakaian yang baru. Jenazah yang menjadi mumi di acara ma' nene' telah berusia puluhan tahun. Dan katanya ada juga yang berusia ratusan tahun.

Toraja adalah anugerah dan berkah dari Tuhan, tutur opa yang duduk di sebelah gw di perjalanan menuju Rantepao Rabu, 21 Agustus 2018. Dan gw mengaamiini kalimat beliau.


Ritual ma' nene' umumnya dilakukan serempak satu keluarga atau bahkan satu desa, sehingga acaranya pun berlangsung meriah. Semua masyarakan akan tumpek blek di acara ini. Suasana di patane yang gw kira bakalan seram pun berubah haru. Tak ayal acara ini pun menjadi acara 'berkumpul bersama', dimana anggota keluarga yang merantau akan datang saat acara ini berlangsung.

Setelah proses penggantian pakaian, lalu jenazah akan 'berdiri' bersama para anggota keluarga untuk berfoto bersama. Para wisatawanpun diperbolehkan untuk mengambil foto dan berfoto bersama. Setelah acara temu kangen keluarga tersebut selesai, jenazah akan dimasukan kembali ke peti untuk kemudia simpan ke Patane. Rangkaian prosesi ma' nene' ditutup dengan berkumpulnya anggota keluarga di rumah adat Tongkonan untuk beribadah bersama.



48 jam yang merubah pandangan gw tentang Toraja. Tentang ketulusan cinta pada leluhur. Bagi gw, Ma' nene' bukan hanya sekedar ritual membersihkan jasad dan memakaikan baju baru. Acara ini mempunyai makna yang sangat dalam, mencerminkan betapa pentingnya hubungan antar anggota keluarga, terlebih bagi sanak saudara yang telah terlebih dahulu meninggal dunia. Masyarakat Toraja menunjukkan hubungan antar keluarga yang tak terputus walaupun telah dipisahkan oleh kematian. Lewat ma' nene' ini pula menjadi media untuk memperkenalkan anggota-anggota keluarga yang muda dengan para leluhurnya.



Sebenernya gw masih miskin literasi, masih perlu banyak info buat mengulas acara ini sampe tuntas. Sedihnya, gw baru sadar kalau gw kekurangan materi saat mulai nulis artikel ini. Beberapa info di google menurut gw jauh dari kondisi di lapangan. Jadi, gw harus ke Toraja lagi. Hehe.
Dan gw sangat berterimakasih untuk pembaca yang sedia mengoreksi artikel ini, memberikan saran dan kritik demi kelengkapan artikel ini.


Jadi Indonesia itu bukan melulu tentang pantai dan pegunungan. Indonesia adalah paket lengkap. Kalau kau masih muda, punya waktu, tenaga, meteri dan masih sendiri (hehehe), lakukanlah perjalanan. Pundi-pundi rupiahmu akan kembali, tapi waktu dan tenaga 'muda' mu tak akan pernah kembali lagi.

Terimakasih sebanyak-banyaknya untuk :
Om Fyant Layuk (teman perjalanan yang luar biasa)
Kak Abun Pasanggang (yang sudah ngebully gw disana, tapi kurang pedes bully annya)
Ruhul Arkam (teman dari Enrekang yang sudah jauh-jauh dateng buat anterin kopi, btw sampai ketemu lagi)
Para warga di Pangala' yang sangat-sangat ramah
Dan teman-teman yang gw temukan sepanjang perjalanan.










 



(Direvisi satu kali pada 15 September 2018 pukul 01.39)
Read More

Sabtu, 18 Agustus 2018

Let's Get Lost at Singapore 4D3N | Traveling | Lil P Journey

Hello guys!
Kayanya uda lama ya gw nggak post tempat-tempat liburan yang seru buat kalian jadiin referensi. Jadi kali ini gw pengen share  liburan gw ke Singapore awal tahun kemarin. Mungkin di google uda banyak banget yang share liburan ke Singapore. Tapi ya, ini liburan versi gw.
By the way, mungkin post kali ini bakalan gw bagi menjadi dua bagian, yang pertama tentang kemana aja sih gw selama disana dan yang kedua about budgeting. Dan diartikel ini gw bakalan share selengkap-lengkapnya panduan ke tempat wisata 'gratis' di Singapore. Mulai dari terminal MRT dan pintu keluarnya serta apa aja yang ada disana. So kalian harus baca sampai tuntas. Dan karena perjalanan ini menggunakan MRT sebagai transportasi selama di Singapore, kalian wajib punya peta MRT nya, bisa di download di appstore, google play, google atau ambil di brosur yang ada di Changi MRT.

Alkisah, diceritakan dua orang sahabat pergi keluar dari zona nyaman mereka pada 24-28 Januari 2018 menuju negeri singa yang berada di seberang.
LET'S GET LOST AT SINGAPORE 4D 3N

Rabu, 24 Januari 2018
----------------------------------
DAY 1
BDJ-CGK
CGK-Singapore
Little India (liat hiasan lampu ditengah jalan yang cantik)
Balik ke Hotel
----------------------------------
Solusi traveling hemat itu ya bareng Airasia. Terhitung 22 Januari 2018 penerbangan rute internasional Airasia pindah ke Terminal 3 (T3). Nah untuk pindah terminal (karena kami transit BDJ-CGK) kita bisa pakai Skytrain atau shuttle bus yang disediakan oleh pihak bandara (kami milih skytrain untuk pindah terminal). Dan fasilitas ini GRATIS guys untuk kalian yang mau pindah terminal. Kalau naik taksi bandara, kalian perlu siapin budget Rp 100.000,-.

T3 Soekarno-Hatta

Pukul 16.50 kami sampai di Changi International Airport. Dan kami harus naik shuttle bus dari T4 kedatangan ke T2 untuk naik MRT (kalian bisa baca dipetunjuk arah yang ada di bandara 'bus to T2 & MRT'). Sampai di T2 tinggal cari aja petunjuk 'MRT'.
Nah sedikit tips nih buat yang mau naik MRT, better kalian beli "Singapore Tourist Pass" karena itu pass unlimited untuk tourist yang berlibur ke Singapore. Dan menurut gw transport pakai STP ini murah banget di bandingin kalian ambil yang one way ticket. Untuk biaya STP 1 hari itu $20SGD dan untuk 3 hari $30SGD. Detailnya bakalan gw post di bagian kedua ya.

Arrived at Changi Airport
Setelah kami membeli STP, tujuan pertama kami adalah HOTEL! Hahaha. Dan baru ini gw cobain hotel di Chinatown. Hotelnya deket banget sama stasiun MRT. Recommended banget hotelnya. Namanya Royal Lodge (kami pesen di Traveloka). Pelayanannya keren banget deh pokoknya. Kalau nggak salah gw ada bikin review hotel ini di Traveloka dan TripAdvisor.
Pintu keluar Chinatown MRT, disebelah kiri ada Guardian, nah hostelnya itu tepat disampingnya.




Free breakfast dari hotelnya.
add $1,8SGD dan kalian bisa nikmatin nasi goreng

Little India
Little  India




Kamis, 25 Januari 2018
----------------------------------
DAY 2
Chinatown Heritage Center
Marlion Park (sayangnya pas renov T_T)
Garden by the bay
Sky Way Garden by the bay
Art Science Museum
 Carkle Quay 
----------------------------------

Chinatown Heritage Center
Lokasinya dekat dengan hotel. Begitu keluar dari hotel belok kiri, lurus saja sekitar 50 meter. Kalau kalian ingin menelusuri sejarah masyarkat China tinggal di Singapore, mungkin Chinatown Herritage Centre adalah tempat yang tepat untuk kalian kunjungi. Gw lupa sih berapa tiket masuknya, karena kami kurang tertarik untuk berkunjung ke dalam. Hehehe


Marlion Park | Rafles Place MRT exit G
Yuhuuuu, ke Singapore tak lengkap rasanya kalau tak berkunjung ke Marlion Park yang merupakan 'Monasnya' Singapore. Sayangnya waktu kami kesana, patung Marlion nya sedang di renov. Tapi tak apalah, karena saat kalian menuju tempat ini, kalian bisa menikmati pemandangan Singapore yang dihiasi gedung-gedung tinggi.
Untuk sampai ke Marlion park, begitu keluar pintu G kalian belok kanan, dan nanti masuk mall gitu untuk menyeberang. Kalian bisa nanya ke orang sekitar. (soalnya kalau dijelasin agak ribet. hehehe)

Suasana di dalam MRT saat sepi
Penyeberangan menuju Marlion Park
 







Garden by The Bay | Bayfront MRT exit E
Ada banyak tempat wisata yang bisa kalian nikmati disini. Tapi ada tiekt masuknya. Hehehe.
Dan yang iconic dari Garden by The Bay ini adalah pohon yang terbuat dari rangka besi yang akan menampilkan pertunjukkan lampu warna-warni ketika malam dan diiringi dengan lagu.

Lunch $8,5 SGD
Salah satu wahana yang cukup murah yang kami masuki adalah 'OCBC Sky Way'. Kalau nggak salah sih untuk masuk dikenakan tiket $6 SGD. Jadi kan di pohon disini ada yang connected gitu kan. Nah kita bisa nikmatin view dari atas sini.






Art Science Museum | Bayfront MRT exit E
Loh kok sama MRT nya? Iya guys, Garden by The Bay dan Art Science Museum ini satu lokasi. Nah keluar pintu E itu akan ada arah panahnya kita mau kemana. Cuma beda belokan aja. Kalau ke sini kalian cukup lurus dan masuk mall gitu, lalu naik eskalator sampai lantai 3 kalau nggak salah. 
Niatnya kami kesini pengen masuk dan foto di dalam lampu-lampu itu. Hehehe. Tapi sayang pas kami kesini uda tutup (6 pm).  Dan kami memutuskan untuk kembali esok pagi.

Carkle Quay | Carkle Quay MRT
Carkle Quay merupakan wisata malam Singapore yang berada di tepi sungai. Disini kalian bisa menikmati dentuman musik DJ outdoor, keliling sungai dengan kapal dan ada juga wahana yang ekstrim dimana kita akan menaiki bola dan boom kita akan di lempar. Serius! Hahaha

Disini juga ada tempat untuk menggantung gembok 'cinta'
Jum'at, 26 Januari 2018
----------------------------------
DAY 3
Masjid Sultan
Sentosa Island
Art Science Museum
Helix Bridge
----------------------------------
Masjid Sultan | Bugis MRT exit B
Masjid Sultan Singapore yang terletak di Kampong Glam merupakan titik utama sejarah masyarakat muslim di Singapura. Tak afdol rasanya bila ke Masjid Sultan tanpa makan di warung nasi padang yang ada di belakang masjid ini. Harganya pun lumayan terjangkau $3 SGD, tergantung lauk dan minum yang kalian mau. Hoho.






Sentoso Island | Harbour Front MRT exit E 
Tak lengkap rasanya pergi ke Singapore tanpa singgah ke Sentosa Island. Nah untuk menuju ke Sentosa Island ini kita harus naik kereta khusus. Jadi setelah keluar dari pintu E, kita akan masuk mall (fyi semua MRT keluarnya memang di mall. hehe) dan kita harus naik ke lantai 3. Sampai di lantai 3 akan ada loket tiket. Tiket keretanya sendiri $4 per orang.
Sering kan ya lihat orang foto di depan Universal Studios. Nah disini tempatnya. Kalau foto di depan bola dunia yang ada Universal Studios Singapore itu gratis, tapi untuk masuk kedalam itu sekitar $75 SGD atau sekitar Rp 750.000,- . Tapi tenang, tanpa masuk Universal kalian tetep bisa nikmatin spot-spot foto keren disini.

Ice cream yang wajib kalian coba kalo ke Sentosa Island











Art Science Museum | Bayfront MRT exit E
Kami kembali!!!
Yay! Karena rasanya sayang aja kalau ke Singapore tanpa lihat isi dari  Art Science Museum. Tiket masuknya $6 per orang. Nah di dalam sini kalian bakal nikmatin pertunjukkan dari barisan lampu yang di pajang menjutai yang akan menyala berwarna-warni. Hohoho




 

 
Helix Bridge
Nah kalau ini letaknya deket sama Art Science Museum. Keluar dari museum, tinggal jalan lurus, kalian uda sampe disini. Dan dari Helix Bridge ini kalian bisa lihat museum dan Marina Bay.




Sabtu, 27 Januari 2018
----------------------------------
DAY 4
Sri Mariamman Temple
Makam Habib Noh
Bugis Street (Lunch)
---------------------------------- 
Yay uda nggak kerasa last day. 
Sarapan terakhir hari ini, gw cobain telor setengah matang dan si cece setia dengan nasi gorengnya.
Rencana awalnya sih hari ini pengen Pulau Ubin dimana letaknya nggak jauh dari airport. Tapi ternyata kami lebih memilih menjadi oase dalam rindu pada Mu ya Allah.

Sri Mariamman Temple
Merupakan kuil Hindu yang berada di China Town. Agak jauh memang letaknya dari penginapan kami. Perlu berjalan sekitar 500 meter setelah keluar hotel dan belok kiri.



Makam Habib Noh | Palmer Rd Tanjong Pagar MRT
Nah untuk kesini kalian bisa menggunakan Tanjong Pagar MRT lalu keluar di exit E. Keluar dari MRT kalian akan nemu lampu merah di mana ada petunjuk jalan bertuliskan Maxwell Rd, lalu belok ke kanan (Shenton Way), lurus saja sampai Palmer Rd. Kubah masjid nya kelihatan kok dari jalan raya.



Bugis Street  | Last Lunch
Lunch terakhir di Singapore.




WELCOME BACK TO INDONESIA
Senyaman apapun negeri seberang, memang lebih nyaman 'rumah'. Dan kami rindu makanan Indonesia. Hahaha. Tahu tek menjadi sasaran pemadam rindu akan kuliner nusantara.

Tahu Tek Cak Har, terenak di Banjarmasin. Alamatnya di seberang Giant A Yani Km 6,5.

Jadi, sejauh apapun kamu pergi, pada kahirnya tujuan akhirmu pasti lah rumah. Ya Indonesia adalah rumah. Selagi masih sendiri, waktu tak akan pernah kembali, tapi uang dapat kau cari. Jadi, selagi muda dan sendiri, menjelajahlah. Karena Indonesia terlalu indah untuk hanya kau nikmati di layar.
Read More