Kamis, 28 Februari 2019

Lepas, Lari, Kejar | Pluviophile | Lil P Journey


Banyak hal yang terjadi begitu cepat.
Hingga nyaris tak tersadari.
Seperti kita yang tiba-tiba saja berjarak.
Kau yang awalnya begitu aku puja, aku banggakan didepan mereka.
Hingga akhirnya berita bahagia itu datang.
Dan aku?
Oh aku juga tengah berbahagia dengan semua perjalanan yang tengah aku susun rapi.
Anehnya, entah sejak kapan aku sudah tak pernah memasukan mu dalam 'rencana' ku.
Aku lupa kapan terakhir aku merindukanmu.

Yang aku ingat : aku adalah pendengarmu tentang masa lalumu.

Ritme hidupku berjalan terlalu cepat.
Aku sendiri nyaris tak sadar bahwa perubahan itu begitu instens terjadi.
Yang aku tau : aku adalah wanita merdeka yang bahagia.

Aku melepas sebelum aku sadar melepas.
Aku bahagia sebelum aku sadar bahwa aku sudah bahagia.
Aku mengucapkan selamat tinggal tanpa aku sadar pernah mengucapkannya.
Aku berlari sebelum kamu mengejar.
Dan aku mengejar saat yang lain masih terlelap.

Sudah ku bilang : we never be.
Read More

Minggu, 10 Februari 2019

Tempat Aku Pulang | Poem | Literasi | Lil P Journey

Singapore, Tahun Pertama | Dokumen Pribadi

Aku pernah memanggilmu sebagai 'rumah', tempat aku ingin pulang setelah tualang panjang. Walau, pada akhirnya, semua hilang karena egomu yang lebih tinggi daripada gunung yang pernah aku daki. Tak apa, setidaknya aku pernah berjuang sejauh ini walau tak pernah ternilai di matamu.

Aku mengenalmu kurang dari 15 menit. Dalam bisikan 'halo' yang mengantarkan ku pada petualangan panjang di tanah yang tak ingin ku rindukan, tapi saat ini selalu aku rindu.

Biarlah.
Aku memang terbiasa seperti ini. Menulis sajak penuh drama ketika aku terluka, lalu akan mengarsipkannya saat luka itu sembuh sembari tertawa : KONYOL. Tapi, apa kamu hanya ingin aku arsip sebagai daftar merah orang yang tak ingin aku kenal lagi? - kadang aku menjadi pendendam. Apa kamu tak ingin menamaniku meminum secangkir kopi di pagi hari sembari bersiap memulai hari? Aku? Jujur saja, ingin menjadi orang pertama yang kau lihat saat kau bangun dan menjadi orang terakhir yang kau lihat sebelum kau terlelap tidur. Menyiapkan sarapan pagi untukmu, memasakan makanan favoritmu, menyiapkan baju kerjamu dan memelukmu saat kau lelah.

Aku ingin menjadi apapun yang kau butuhkan tanpa menuntut kau melakukan hal yang sama. Tapi, egomu terlalu tinggi untuk aku daki. Kau terlalu mustahil untuk aku dekap lebih lama. Entah apa yang ada di dalam kepala indahmu itu. Aku selalu kagum dengan cerita-cerita dan candaanmu. Aku suka dengan selera humormu. Aku suka dengan perutmu yang semakin membuncit, aku suka dengan tanganmu yang posesif. Andai jarak lebih bersahabat. Andai waktu lebih damai, akankah aku masih memilihmu untuk ku perjuangkan?

Sedang jujur saja, aku sadar, saat aku sedih akan selalu ada orang-orang yang menghiburku. Ada pundak yang senantiasa terjaga untuk ku sandari. Ada tangan yang selalu mendekapku saat aku menahan semuanya sembari berbisik : menangislah, wajar sesekali kau menjadi 'wanita'. Atau : hei! kamu terlalu berharga untuk menangisi lelaki itu, tidakah kau sadar?

Luar biasanya, dibalik pandangan ku tentang kamu yang luar biasa mampu membuatku gelisah, ada orang-orang yang selalu pasang badan untuk menampung keluhku.

Semoga dalam waktu dekat akalku kembali dan aku bisa pergi meninggalkan mu, lalu tersenyum konyol saat mengingat semua kegundahan ku detik ini.

Semoga selalu sehat, kamu.
Read More