Kamis, 05 April 2018

KE'TE KESU | TORAJA TRIP | LIL P JOURNEY | PESONA INDONESIA

TONGKONAN

Bagi para pencinta kopi, Toraja bukanlah kota yang asing. Selain terkenal dengan kopinya, Toraja juga terkenal dengan wisata budaya. Walaupun menuju ke Toraja memerlukan waktu 8-9 jam dari Makassar, tapi tak menyurutkan minat para pelancong untuk datang ke Toraja.
Salah satu lokasi wisata iconic ketika kalian kesana adalah Ke'te Kesu. Ya, ibarat Jakarta itu Monas. Ke'te Kesu merupakan desa kuno yang ada di jantung di dataran tinggi Toraja. Sebagai salah satu desa kuno, Ke'te Kesu seakan tak goyah oleh peradaban. Menurut beberapa sumber, diperkirakan desa yang berada diantara hamparan sawah ini telah berumur 400 tahun. Ke'te kesu merupakan museum hidup dimana kita dapat merasakan budaya pertama dan tradisi masyarakat kuno Toraja.

Salah satu daya tarik desa kuno ini ada pada "Tongkonan" atau  rumah tradisional masyarakat Toraja yang diatur dalam baris yang saling berhadapan dengan lumbung atau dalam bahasa Toraja disebut alang. Pada dinding Tongkonan dihiasi oleh ukiran dan tanduk kerbau yang berfungsi untuk menandakan status pemilik rumah. Pada masyarakat asli Toraja, hanya keluarga bangsawan yang dapat memiliki hak membangun  Tongkonan dengan atap berbentuk perahu kebesarnnya, sementara orang biasa tinggal di yang lebih kecil. Membangun Tongkonan merupakan tugas melelahkan, dimana semua anggota keluarga akan terlibat.

BUKIT/BUNTU KE'SU


Tak jauh dari Tongkonan terdapat Bukit/Buntu Ke'su yang merupakan situs pemakaman kuno. Usia dari pemakaman kuno ini diperkirakan lebih dari 700 tahun. Di bukit ini tersebar tengkorak dan tulang manusia, di dinding tebing terdapat "gua" yang merupakan kriptus kuno. Menurut tradisi, orang berstatus sosial tinggi dikubur di lubang yang lebih tinggi, sedang rakyat baiasa dikubur di kaki bukit. Masyarakat Toraja percaya bahwa semakin tinggi dikubur, maka semakin mudah jalan menuju surgasurga/puya (in local language). Sebagai simbol dari masing-masing "gua penduduk", terdapat patung/tau-tau yg menyerupai si empu gua.

CERITA KITA

Honestly, Toraja memang ada di list liburan gw tapi bukan dalam kategori "segera". Nggak tau kapan bisa kesana, tapi pengen kesana. Daaan yang namanya rezeki bisa datang kapan saja kalau kita yakin bahwa kita punya Tuhan Yang Maha Kaya.
Perjalanan ke Toraja ini merupan rangkaian dari 'Dolan Dadakan' 7D6N gw sama cece. Di hari ke 5 kami menuju Toraja setelah puas dengan perjalanan 'mantai' Makassar - Kendari - Sambori & Labengki. Sayang waktu kami terbatas karena kita uda 'mantai' duluan, jadi cuma punya waktu 12 jam. Ya 12 jam. Hahaha. Tanggal 24 September kami berangkat dari Kendari ke Makassar. Sampai di Makassar pukul 21.30, dan kami langsung ke Terminal Daya dengan Go-Car. Bis menuju ke Toraja berangkat pukul 22.00 dan 07.00 setiap harinya. Pengalaman gw siah ya, kalian mending beli tiket bisa sehari atau dua hari sebelum pergi.
Setelah 8 jam perjalanan, kami sampai di Toraja sekitar pukul 06.00 pagi, dan kami langsung menghubungi penyewaan motor yang telah kami booking sebelumnya. Cukup susah sebenarnya cari info rental motor di Toraja lewat internet, tapi untungnya salah satu temen gw baru aja kesana, dan dia simpen nomor penyewaan motornya. Harga sewa motor sama seperti kota lain sih, 100.000/hari. Bagi kali yang lagi cari kontak penyewaan motor dan mobil di Toraja bisa hubungi nomor ini : 081343833944 / 081243003330. Orang penyewaannya ramah banget. Gw bahkan minta bikinin itinerary ke mas sewa motor ini. Hehehe... Soalnya kita kan punya waktu cuma 12 jam aja di Toraja dan kita juga lost internet connection 😕. Oh iya kalau kalin kesini sebaiknya jangan pake provider XL ya, better Tsel or 3.
Rencananya, ketika kami ke Ke'te' Kesu' ini pengen sewa baju adat terus foto di Tongkongan. Kan kece tuh. Tapi apa daya perut tak dapat dilawan karena sedari pagi belum makan, cuma berganjal gorengan pinggir jalan dan waktu yang harus efisien karena kami cuma punya waktu sampai jam 5 sore. Haha. Okay balik ke cerita Ke'te Kesu. Bagi kalian yang mau belanja tenun di Ke'te Kesu, sebaiknya beli yang di toko agak ke belakang, di sepanjang jalan ke Bukit Buntu Ke'su. Harganya lebih murah sekitar 10.000 - 50.000.

Nah, untuk kalian yang pengen ke Toraja lebih baik plan di bulan Juli s/d Desember. Karena upacara Rambu Solok di adakan pada bulan Juli - Asgustus. Rambu Solok sendiri merupakan rangkaian upacara pemakanan agar arwah orang yang meninggal tidak meninggalkan kemalangan pada orang yang ditinggalkan. Jika orang yang meninggal dari kalangan bangsawan maka harus memotong kerbau dan babi sekitar 24-100 ekor. WOW! Pantas upacara ini merupakan salah satu upacara besar dan memerlukan biaya yang tidak sedikit, sehingga selama menunggu upacara ini tubuh yang meninggal akan dibungkus kain (balun) dan disimpan di Tongkonan.

Pintu masuk Bukit Buntu Ke'su
Tongkonan Ke'te Kesu
Dan pada akhirnya, setiap perjalanan selalu menuntun pada penggalan cerita-cerita baru yang bisa dikemas dalam tulisan untuk menumbuhkan memori yang dapat kita bagikan pada orang lain tentang keindahan Indonesia yang tak akan pernah cukup untuk kau kelilingi dalam 365 hari.